-->

search blog/ web

MenGatasi INfluenza PaDa AnaK

SERINGKALI, Bayi dan Anak mengalami influenza alias pilek dan flu. Namun, mereka masih belum bisa bagaimana cara mengatasi untuk membuang kotoran dari hidung. Ini sudah tentu mengganggu pernapasan pada bayi dan anak - anak. Berukut beberapa Tips dan Solusi yang bisa anda lakukan untuk membantu sikecil :

          Cara Alami
  1. Jemur matahari pagi.
  2. Terapi uap. Pada saat bayi tidur, tutup pintu kamar / jendela dan buat ruangan menjadi lebih humid dengan penguapan selama 10-15 menit, yaitu dgn menggunakan ember / teko listrik yg diisi air panas yg ditetesi minyak telon / minyak kayu putih yg diletakkan di sudut ruangan. Terapi uap ini bisa dilakukan 2 atau 3 kali sehari.
  3. Perbanyak ASI...ASI...ASI ( bayi ). Kalau untuk anak, kasih intake cairan yg hangat2, air putih, kuah sup. Untuk pengencer dahak paling ampuh & aman adalah air putih hangat.
  4. Jika tidur nya terganggu karena ingus yg bumpet, tetesin dgn cairan NaCl0.9% (merk dagang 'breathy'). Aman kok buat bayi mulai usia 1 bln ke atas.
  5. Olesin dadanya dgn transpulmin BB ( baby balsam ) tipis2 ( khusus untuk bayi ) untuk memberikan efek hangat.
  6. Pada bayi usia lebih dari 6 bln, saat tidur letakkan di samping bantalnya sapu tangan yg telah ditetesi minyak kayu putih. Ini untuk melegakan pernapasannya dan memberikan efek hangat.
  7. Matikan AC.
  8. Hindari asap rokok.

    Selain itu, metode menjemur bayi juga efektif menghilangkan pilek pada anak. Dengan cara menjemurnya tengkurap dan menepuk - nepuk punggungnya dengan halus.

    Cara Medis

    Menurut dr. Danche, penggunaan obat inhalasi akan berefek instan, dan terbukti cukup aman dipakai dalam jangka panjang tanpa timbul efek samping. Bahkan pengobatan cara ini pun bisa dilakukan pada bayi.
    "Pada dasarnya, obat yang diberikan secara inhalasi bekerja pada target organ saja dan setelah itu habis. Sedangkan obat minum atau suntikan berisiko menimbulkan efek samping, karena ikut beredar dalam darah atau bekerjanya secara sistemik," terang Danche.
    Hanya saja, untuk efektivitas pengobatan atau terapi yang dilakukan, perlu ada penyesuaian terhadap alat yang digunakan. Misalnya untuk bayi, pipa dari tangki nebulizer perlu disambung dengan pipa berukuran lebih kecil diameternya, sesuai dengan mulut dan hidung bayi.
    Bagi anak usia 3 tahun, yang sulit diam di tempat, pipa dari nebulizer bisa disambungkan dengan pipa lebih kecil dan memiliki klep di ujungnya (baby haler). Jadi, ketika sang anak melepaskan pipa udara sebelum terapi selesai, obat tak akan hilang ke mana-mana.
    Sedangkan bagi anak usia di atas 5 tahun dan orang dewasa, bisa digunakan alat berupa cungkup karet yang menutup mulut dan hidung (micromized), pipa biasa yang dihirup melalui mulut, atau disambung dengan selang yang langsung menuju ke arah kedua lubang hidung.
    Mudahnya lagi, tak perlu syarat rumit untuk melakukan inhalasi. Cukup dengan mengedukasi si penderita dan lakukan berdasarkan diagnosa yang benar. Jika memang sulit dilakukan sendiri, sebaiknya lakukan dengan bantuan fisioterapis. Terutama jika pasien yang ingin dilakukan inhalasi memang masih bayi.
    "Bila melakukannya sendiri di rumah, dikhawatirkan jika orangtuanya tak tahu cara melakukan inhalasi dengan benar, justru akan berisiko lendir masuk lebih dalam ke tubuh bayi dan bisa menjadi bumerang!" pungkas Danche.
    Yang Patut Diperhatikan
    Walaupun aman, pemakaian terapi inhalasi dapat dilakukan dengan tetap mempertimbangkan sejumlah kondisi berikut:
    1. Memiliki riwayat gagal jantung
    2. Batuk pilek yang diderita disertai demam tinggi
    3. Demam atau panas yang diderita sebaiknya diturunkan dulu dengan obat penurun panas, baru kemudian diterapi dengan inhalasi agar terapi berjalan optimal
    4. Sedang mengonsumsi obat erytromicin
    5. Sedang menggunakan obat jenis kortikosteroid, karena akan menurunkan efektivitas kerja obat yang mengandung erytromicin, ketika diterapi inhalasi
    6. Baru saja selesai makan
    7. Jika bayi baru saja makan, dikhawatirkan setelah diinhalasi bayi akan memuntahkan dahak beserta makanan yang baru saja dimakannya.

    Laili Damayanti
    Foto: Dok. Nakita


Artikel yang Anda Cari:

0 komentar:

ARTIKEL TERPOPULER

Join here

Share & Enjoy

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More